/Uniknya Musik Film Series Saiyo Sakato, Padukan Alat Musik Tradisional dan Modern
Saiyo Sakato

Uniknya Musik Film Series Saiyo Sakato, Padukan Alat Musik Tradisional dan Modern

Bagaimana jadinya saat saluang dan talempong yang merupakan alat musik Minang berpadu dengan alat musik modern? Inilah yang akan terdengar dalam film series Saiyo Sakato, yang dikerjakan penata musik Anggi Novalga.  

Anggi Novalga menjelaskan musik  film series yang terdiri dari 12 ini, tidak terlalu berfokus pada musik tradisional Minang. Alasannya, film series Saiyo Sakato merupakan film dengan latar belakang orang minang yang telah berasimilasi dengan masyarakat urban Jakarta.

“Maka musiknya pun merepresentasikan keragaman tersebut, yang digunakan hanya elemen-elemen dasar musik Minang yang dikolaborasikan dengan musik konvensional,” ungkap Anggi Novalga kepada Golali secara online, beberapa waktu lalu.

Untuk itu, sambung Anggi Novalga musik yang dihasilkan tidak terlalu kental tradisi maupun konvensional seperti musik drama.

“Maka Proses kreatif harus berada di antara keduanya,” imbuh Anggi Novalga.

Dalam melakukan proses kreatif, untuk film series Saiyo Sakato ini. Anggi Novalga mengaku mendapatkan inspirasi dari pengalaman masa kecilnya yang bersinggungan dengan musik Minang.

“Inspirasi bagaimana musik minang masuk dalam proses kreatif merupakan akumulasi memori yang telah lama saya serap dari kecil hingga sekarang. Yang saya dapatkan baik secara sengaja maupun tidak,” beber Anggi Novalga.

Selain itu, Anggi Novalga pun banyak mendapatkan ide dalam proses kreatif dari Salman Aristo  (Wahana Kreator, yang memproduksi Saiyo Sakato). Mulai dari pemilihan ide musik yang sesuai dengan emosi cerita.

Memberikan referensi musik yang sesuai dengan kebutuhan, hingga terlibat langsung dalam pengisian instrumen bass dalam proses pembuatan scoring dan lagu diagetic pada film series Saiyo Sakato.

Proses produksi musik untuk Saiyo Sakato

Untuk memproduksi musik untuk film series, Anggi Novalga membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

“Sebisa mungkin sebelum film masuk ke tahap post-production, saya mengantisipasi masalah yang muncul dengan membuat sebanyak mungkin perbendaharaan musik untuk film tersebut berdasarkan script tanpa gambar. Dan betul saja, ketika tiba waktunya gambar diproses dengan pengerjaan musik.  Efisiensi waktu tercapai sesuai dengan jadwal yg telah ditetapkan dari awal,” ungkap Anggi Novalga. (*/Golali.id)

Dok : IMDb