/Sekilas Tentang Lahirnya Angklung di Tatar Sunda

Sekilas Tentang Lahirnya Angklung di Tatar Sunda

Angklung biasanya dibuat dengan jenis bambu hitam (Awi wulung) atau bambu ater (Awi temen), yang mempunyai ciri khas berwarna kuning keputihan saat mengering.

Angklung dirangkai dengan mengumpulkan 2 hingga 4 tabung bambu beda ukuran dan dirangkai menjadi satu dengan cara diikat dengan rotan.

Mengutip rilis HUMAS PEMKOT BANDUNG dari sejumlah sumber menyebutkan, angklung telah dikenal sejak Sunda masa lampau. Instrumen angklung digunakan dalam berbagai acara, khususnya perayaan bercocok tanam.

Di masa itu, Angklung dimainkan sebagai bentuk pemanggilan kepada Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Dari dulu hingga sekarang, Angklung dimainkan dengan cara digetarkan atau digoyangkan.

Konon, kata angklung berasal dari bahasa Sunda “angkleung-angkleung”, yang artinya gerakan pemain dengan mengikuti irama. Sementara kata “klung” adalah suara nada yang dihasilkan instrument musik tersebut.

Setiap nada dihasilkan dari bentuk tabung bambu yang berbeda ukuran. Sehingga jika digoyangkan akan menghasilkan melodi indah yang enak didengar.

Sejak tahun 2010, angklung ditetapkan menjadi Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Pada tanggal 21 Mei 2022, Kota Bandung dinobatkan sebagai Kota Angklung. (Yatni Setianingsih/Golali.id)

Baca juga :  Lirik Lagu Pernah Muda – Bunga Citra Lestari