/Resensi Novel Perahu Kertas tentang Pilihan Hidup

Resensi Novel Perahu Kertas tentang Pilihan Hidup

Novel Perahu Kertas yang ditulis Dee Lestari mengangkat cerita dua tokoh utama Keenan dan Kugy, yang sama-sama berusia 18 tahun dan baru masuk kuliah di salah satu kampus yang sama di Kota Bandung, namun fakultas yang berbeda. Keenan berkuliah di Fakultas Ekonomi sementara Kugy, berkuliah di Fakultas Sastra.

Keenan dan Kugy memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi sama-sama menyukai dunia seni dan sastra, yang dianggap banyak orang tidak dapat menjadi pegangan hidup di masa depan.

Keenan terlahir dari ibu yang menyenangi seni rupa, bakat ini pun menurun pada Keenan. Sayangnya, ayah Keenan tidak pernah ingin anak pertamanya tersebut menjadi pelukis. Keenan menghabiskan masa remajanya di Belanda menemani neneknya.

Keenan memiliki sifat yang sangat introvet, Keenan lebih senang menuangkan perasaannya melalui lukisan.

Sementara Kugy, sangat menyukai dunia sastra terutama menulis dongeng. Orangtua Kugy maupun empat saudaranya (kakak dan adiknya) mendukung Kugy. Maka tak heran, keluarga Kugy membiarkannya mengambil kuliah di bidang sastra.

Sejak kecil Kugy dan keluarganya sering berpindah-pindah daerah di Indonesia, untuk mengikuti tugas ayahnya. Kugy sosok yang ceria dan ekstrovet.

Kesukaan pada seni dan sastra, membuat Keenan dan Kugy menjadi akrab, walaupun sifat keduanya berbeda.

Awalnya Kugy tidak menyangka jika, Keenan berkuliah dalam bidang Ekonomi hanya untuk memenuhi keinginan ayahnya, hal itu baru terungkap saat Kugy mengutarakan jika dirinya sangat tertarik menjadi pendongeng tetapi pilihannya itu tidak akan dapat menghidupinya di masa depan, makanya Kugy rajin menulis cerpen yang dianggap lebih rasional untuk masa depannya tanpa harus jauh dari kesenangannya menulis, termasuk bidang kuliahnya yang masih berhubungan dengan dunia pendongeng.

“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apa lagu kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, penulis dongen bukan pekerjaan “serius”. Nggak bisa makan.

Aku harus bisa mandiri, punya penghasilan yang jelas, baru setelah itu…TER-SE-RAH

Aku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana, tapi di planet bernama Realitas ini, aturan mainnya, ya, begitu.” (Halaman 45)

Novel Perahu Kertas mengangkat berbagai lokasi mulai dari Amsterdam (Belanda), Jakarta, Bandung, hingga Ubud-Bali (Indonesia). Dengan setting waktu akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Lewat Novel Perahu Kertas, Dee mengangkat fenomena yang sering terjadi pada saat itu dan masih relevan hingga sekarang. Tentang kekhawatiran orang tua kepada anaknya yang memilih dunia seni dan sastra, yang dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah.

Novel Perahu Kertas pun mengangkat kisah persahabata dan percintaan para remaja, termasuk letupan-letupan hati Kugy yang sudah memiliki kekasih. Namun mengagumi sosok Keenan, yang ternyata Keenan pun menyimpan perasaan yang sama. (Yatni Setianingsih/Golali.id)

Data Novel

Judul Novel : Perahu Kertas

Penulis : Dee Lestari

Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Terbit pertama kali 2009 dan diterbitkan ulang 2015

foto : istimewa