/Resensi Novel Laut Bercerita

Resensi Novel Laut Bercerita

Novel Laut Bercerita yang ditulis Leila S.Chudori mengangkat kisah berlatar belakang era Orde Baru, era Reformasi, dan era Pascareformasi. Dalam novel bergenre historical fiksi ini, Leila S.Chudori menghadirkan tokoh sentral bernama “Biru Laut” yang akrab disapa “Laut”.

Laut diceritakan seorang mahasiswa Fakultas Sastra Inggris, yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Laut bersama teman-temannya dari fakultas yang berbeda, sering berdiskusi untuk memecahkan masalah kehidupan petani yang tertindas pemerintah Orde Baru, hingga menimbulkan kemiskinan.

Namun perjuangan Laut dan kawan-kawannya tersebut, membuat pemerintah yang berkuasa gusar dan menurunkan aparat keamanan untuk menangkap Laut juga kawan-kawan.

“Kami semua duduk di atas tikar tanpa bersuara karena Kinan dan Sunu meletakkan telunjuk ke atas bibir. Tentara sudah mulai masuk dan mengecek rumah-rumah para petani satur per satu. Mereka menanyakan di rumah manakah para mahasiswa menginap dan tentu saja para petani berlagak heran,” (Halaman 130)

“Ketika kami tiba di Terminal Bungurasih, terasa suasana yang menekan. Kinan mencolek lenganku sambil menunjuk dengan ekor mata ke arah ruang tunggu bus. Bram berdehem memberi kode agar kami segera berbalik arah melihat begitu banyak lelaki berambut cepak, berbaju sipil, dan jelas membawa senjata di kantongnya yang seolah tengah menanti kami,” (Halaman 164)

Kendati begitu, Laut dan kawan-kawannya tak goyah memperjuangkan para petani tersebut, walaupun banyak intimidasi dari pemerintah. Puncaknya pada tahun 1998, Laut dan rekan-rekannya itu diculik di Jakarta dan raib ditelan bumi.

Keluarga Laut pun berusaha mencari informasi tentang kondisi anaknya, begitupun keluarga teman-teman Laut, yang sama-sama kehilangan jejak orang-orang terkasihnya. Pada tahu 2000, Asmara (adik Laut) mendapatkan informasi jika ada temuan tulang-belulang yang diduga kemungkinan dari 13 orang yang hilang diculik termasuk Laut.

Asmara pun mendatangi lokasi temuan tersebut, namun belum bisa memastikannya. Asmara merahasiakan hal ini dari orang tuanya, yang masih yakin jika suatu hati Laut akan pulang dan berkumpul bersama lalu makan berempat di meja makan seperti hari Minggu sebelum Laut diculik.

Novel Laut Bercerita yang terdiri dari 2 bagian ini pun, menukil masalah yang sampai saat ini masih terjadi dan tidak terselesaikan yakni masyarakat khususnya petani yang terlilit utang kepada rentenir (lintah darat atau Bank Emok) yang berakhir tragis.

“Bram menceritakan masa kecilnya di Cilacap. Mbah Mien, salah satu ibu di desanya yang menetap di belakang rumah kakek Bram, ditemukan tewas karena terlibat utang lintah darat,” (Halaman 27)

“Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan, perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian,” (Halaman 28)

Tak hanya tentang kisah yang kelam, Novel Laut Bercerita juga bertutur tentang kisah persahabatan Laut dan teman-temannya, kisah cinta Laut, sampai dengan hidangan kuliner yang disukai Laut. (Yatni Setianingsih/Golali.id)

Data Novel Laut Bercerita

Judul Buku/Novel : Laut Bercerita

Penulis : Leila S.Chudori

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Tahun Terbit : 2017

foto : istimewa