/Resensi Novel Debu Dalam Angin, Tidak Ada Keterlambatan Dalam Memperbaiki Diri

Resensi Novel Debu Dalam Angin, Tidak Ada Keterlambatan Dalam Memperbaiki Diri

Judul Buku                          : Debu Dalam Angin

Penulis                                  : Pratiwi Juliani

Jumlah Halaman               : V+131 Halaman

Penerbit                               : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan                                : Pertama, Desember 2020

ISBN                                       : 978-602-481-353-6

Novel Debu Dalam Angin karya Pratiwi Juliani, mengisahkan tentang seseorang lelaki tua bernama Salvador. Di usianya yang jauh dari muda, Salvador menyesali semua perjalanan tentang kehidupan dirinya di masa muda.

Semua bagian hidupnya telah hilang, mulai dari keluarga yakni istri dan anaknya sampai pekerjaannya.

“Dulu ketika ia muda, bahkan tidak berpikir tentang kemudaan yang akan meninggalkannya. Apa yang ditakutkan manusia jika ia tidak memiliki apa pun? Kehilangan? Kematian? Siapa yang bisa mencuri sesuatu dari seorang manusia yang teramat miskin. Atau, siapa yang bisa membunuh seseorang yang sesungguhnya tidak pernah hidup?” (Halaman 78)

Kendati menyesal, bukan berarti Salvador jatuh dalam keterpurukan dan berputus asa. Salvador memulai kehidupan baru dengan tenaganya yang telah ringkih, menjadi pekerja proyek pembangunan jalan di kotanya.

Ya, novel ini mengambil setting kaum pekerja pembangunan proyek pemerintah, mereka menjalani hari-hari bekerja dari pagi, siang, dan malam. Dan juga kisah liburan mereka diakhir pekan, khususnya para pekerja proyek berusia muda mengunjungi karnaval yang digambarkan mirip dengan pasar malam.

Meskipun Salvador sering merasa kesepian, tetapi kehadiran teman-temannya yang berusia mirip dengan anak lelakinya mengobati sedikit kesepiannya. Salvador seringkali memberikan wejangan kepada mereka.

Kepada John“Aku tidak perlu banyak. Kau masih muda, giliranmu perlu uang banyak,” (Halaman 23)

Atau kepada Peter ketika akan pergi ke karnaval “Bersenang-senanglah,” Salvador berpesan.

“Dan berhati-hatilah, Nak, jaga sopan santunmu, jangan berkelahi, masa depanmu masih sangat panjang.”

Teman-teman satu pekerjaannya pun selalu memerhatikan kondisi Salvador yang telah ringkih tersebut, meskipun Salvador tidak ingin dikasihani.

Kebiasaan Salvador menunggu anaknya Tirbiani yang kini menjadi pejabat di kota tersebut, seringkali menuai keheranan Peter, John, dan rekan-rekan yang lainnya.

Mereka kadang menyangsikan jika Salvador benar-benar mempunyai anak.Apakah Salvador akan bertemu Tirbiani untuk mengobati kerinduannya, bagaimana prilaku Tirbiani kepada ayahnya tersebut?

Melalui novel ini, penulis mengajak pembaca untuk menata hidup sejak dari muda. Namun bukan berarti terlambat juga untuk memperbaiki hidup di masa tua.

Selama masih bernafas, seseorang berhak dan wajib untuk menata dirinya. Suasana surya tenggelam, delta, dan burung batu merah yang pergi memberikan bonus kepada pembaca tentang setting waktu dan tempat tentang suatu proyek yang tidak selamanya gersang. Selamat membaca. (*/Golali.id)