/Resensi Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang

Resensi Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang

Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang yang ditulis M.Lutfhi Khair A. dan Rusdyan Fathy, membeberkan tentang perjalanan Tahu Sumedang dari sang pelopornya yaitu Tahu Bungkeng.

“Industri tahu Sumedang lahir karena adanya seorang imigran Tionghoa bernama Ong Ki No yang diperkirakaan datang ke Sumedang pada awal abad ke-20, pada 1900-an. Ia datang bersama istrinya, yang menjadi penyebab ia membuat tahu pertama kali di Sumedang.

Sang istri adalah seorang yang sangat menyukai makanan Tionghoa yang bernama tao-fu (kata tao-fou dibaca tao-hu, yang kemudian orang pribumi menyebutnya sebagai tahu). Karena perasaan sayangnya kepada sang istri, Ong Ki No rela pergi berkeliling mencari kacang kedelai- bahan baku utama tahu- di wilayah yang masih asing untuknya. Saat itu, di wilayah Conggeang terdapat kebun kedelai lurik. Setelah mendapatkan kedelai, ia pun mengolahnya menjadi tahu.

Tahu pertama yang berhasil dibuat Ong Ki No belum seperti tahu Sumedang yang sekarang kita kenal. Saat itu tahu yang dibuat masih tahu putih khas Tiongkong yang direbus. Ong Ki No membuat tahu tersebut hanya untuk konsumsi pribadi dan terkadang dibagikan ke tetangganya, ” (Halaman 25 – 26)

“Respon yang positif dari warga sekitar, membuat Ong Ki No berpikir untuk mendagangkan tahu. Sayangnya, usaha yang dibuat oleh Ong Ki No itu tidak berjalan mulus. Karena tidak membawa perubahan yang signifikan dalam perekonomian mereka, Ong Ki No dan istrinya berencana kembali pulang ke Tiongkok pada 1917. Pada tahun yang sama, putra mereka bernama Ong Bung Keng (Bung Keng) datang ke Sumedang.

Bung Keng diminta untuk meneruskan usaha orang tuanya. Kegagalan orang tuanya berjualan tahu membuat Bung Keng berpikir tentang apa yang harus dia lakukan agar tahu lebih menarik minat banyak orang. Dari pengamatannya, beberapa jenis makanan siap makan seperti tahu putih, ternyata bisa digoreng.

Bung Keng pun mencoba menggoreng tahu putih. Hasilnya adalah tahu goreng yang memiliki tekstur lebih renyah dan rasa lebih gurih daripada tahu putih rebus. Ketika tahu digoreng, muncul aroma tahu goreng yang khas.

Ada suatu kisah pada tahun 1928, ketika Bupati Sumedang saat itu – Pangeran Soeriaatmadja- pernah melewati tempat berjualan Bung Keng saat hendak menuju wilayah Situraja. Di dalam kereta kuda yang dinaikinya, Pangeran Soeriaatmadja mencium aroma yang belum pernah dikenalnya. Pangeran Soeriaatmadja pun turun dari keretanya dan bertanya kepada Bung Keng, apa yang sedang digoreng ? Bung Keng menjawab itu adalah tahu, makanan khas dari Tionghoa. Pangeran Soeriaatmadja mencicipinya dan mengatakan makanan itu enak dan bila makanan itu terus dijual pasti akan sangat laku,” (Halam 27 – 28)

Dalam Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang pun membahas bagaimana generasi keempat dari Tahu Bung Keng, Suryadi yang menjalankan roda bisnis dari tahu Bung Keng yang kini sudah lebih dari 100 tahun alias 1 abad.

Selain tentang perjalanan Tahu Bung Keng sebagai cikal bakal dari Tahu Sumedang, buku ini pun mengupas sekilas perjalanan pemilik usaha tahu yang awalnya bekerja pada Tahu Bung Keng. Juga tentang kondisi harga kedelai yang naik turun pun dalam mempengaruhi pada industri tahu di Sumedang. (Yatni Setianingsih/Golali.id)

foto : istimewa

Judul Buku : Tahu Sejarah Tahu Sumedang

Penulis : M.Lutfhi Khair A. dan Rusdyan Fathy

Penerbit : LIPI Press, Jakarta

Cetakan : Pertama, April 2021