/Resensi Buku Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong
Buku Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong

Resensi Buku Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong

Judul Buku                                          : Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong

Pengumpul dan Penyunting          : Nicolas Cesard, Antonio Guerreiro, dan Antonia Soriente

Jumlah Halaman                               : 382 Halaman

Penerbit                                              : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan                                               : Pertama, Desember 2015

ISBN                                                    : 978-979-91-0976-7

Buku Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong menjabarkan sastra lisan dan kamus dari bahasa Punan Tuvu`. Sastra lisan yang terdapat dalam buku ini berisi sembilan kisah, yang dalam bahasa Punan Tuvu` disebut mbui.Antara lain berjudul Unjung Nyenginan, Unjung Nyalo, Mbui Otuh Kaci`, Jalung Iket Unan Jalung Kemou, A`mangun Cai, Pu`un kun, Mbui Towé unan Beruk, Mbui Telau`, dan Mbui Kuvong.

Kisah-kisah ini tergolong dongeng, legenda, dan mitos yang melintasi suku Punan Tuvu` yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak dahulu kala (Halaman 36).

Dongeng dan mitos Punan menceritakan kepada kita tentang suatu masa ketika manusia, tumbuhan, dan hewan hidup erat berdekatan satu dengan yang lain.

Kisah-kisah itu menggambarkan dan terinspirasi dari kehidupan sehari-hari yang mulai ditinggalkan sedikit demi sedikit oleh para keluarga Punan dari Sungai Tubu dan Malinau karena mereka mulai menetap, kemudian hidup lebih ke bagian hilir dan menjauhi hutan serta isinya.

Kisah-kisah itu mengingatkan akan masa lampau yang saat ini diidamkan mereka yang pernah mengenalnya. Masa lampau yang aturannya ditaati, dan juga tempat para anggota kelompok bertemu di malam hari untuk berbagi kisah petualangan mereka dan para leluhur (Halaman 43).

Selain memuat kisah dari suku Punan Tuvu`, dalam buku ini tercantum sedikitnya 44 tanaman obat yang biasa dipergunakan masyarakat suku Punan Tuvu` untuk mengobati berbagai jenis penyakit.

Tanaman obat ini biasanya ditemukan di hutan atau ditanam di kebun atau pekarangan rumah.Pada bagian kamus bahasa Punan Tuvu` sebagai bahasa ibu dari suku Punan Tuvu`, di Kalimantan Utara, terdiri dari berbagai macam dialek.

Jumlah penutur dari bahasa yang berkembang di di hulu Sungai Tubu, maupun di daerah yang lebih dekat dengan perkotaan seperti Desa Respen Tubu, ini berkisar 4.000 orang.

Seperti juga bahasa ibu pada suku lainnya di Indonesia, bahasa Punan Tuvu` pun sudah terpengaruh dengan bahasa lainnya. Terutama daerah Respen yang dekat dengan ibu kota kabupaten, yang telah bercampur dengan bahasa dan budaya dari kehidupan kota dan dari bahasa suku yang lain (Halaman 33). (*/Golali.id)