/Resensi Buku Butir-Butir Kearifan Para Raja di Tanah Jawa     

Resensi Buku Butir-Butir Kearifan Para Raja di Tanah Jawa     

Buku Butir-Butir Kearifan Para Raja di Tanah Jawa, membeberkan kearifan para raja di tanah Jawa sejak era Kalingga hingga Yogyakarta. Lewat kearifannya tersebut mampu membawa kerajaan pada puncak kejayaan.

Penjelasan filsafat kepemimpinan di dalam buku ini berasal dari berbagai sumber antara lain karya sastra yaitu Serat Sastra Gendhing, Serat Wulang Jayanglengkara, Serat Witaradya, Hasta Brata, dan 10 M (Manembah, Momong, Momot, Momor, Mursit, Murakabi, Mapan, Mituhu, Mitayani, dan Mumpuni), filsafat kepemimpinan dari pendapat para leluhur Jawa, dan filsafat yang bersumber dari mutiara-mutiara jawa yang disebarluaskan masyarakat melalui tradisi lisan (hal 19).   

Eksistensi suatu kerajaan tidak hanya berkaitan dengan luas wilayah kekuasaan. Kemampuan dalam menjaga kerukunan dengan kerajaan lain menjadi salah satu sikap yang mengokohkan keberadaan suatu kerajaan.

Hal itu seperti yang dilakukan Kerajaan Kalingga di masa Ratu Jay Shima yang dikenal dengan sebutan Ratu Shima. Demi menjaga perdamaian Negeri Kalingga, Ratu Jay Shima menjalin persahabatan dengan Kerajaan Sriwijaya dan Galuh. Ini menunjukkan bahwa selama menjabat sebagai raja, Ratu Jay Shima menerapkan filsafat kepemimpinan smara bhumi adi manggala (salah satu filsafat kepemimpinan yang tertera dalam Serat Sastra Gendhing), yang artinya menjalin persahabatan dengan negara lain demi perdamaian di dalam negerinya.

Ratu Jay Shima pun dikenal sangat adil dalam perkara hukum. Bagi siapa saja yang bersalah, tidak terbatas rakyat jelata, seorang punggawa, maupun putranya sendiri, bila bersalah tetap mendapatkan hukuman yang setimpal. Oleh sebab itu, Ratu Shima harus memberikan hukuman penggal tangan kepada putranya yang mengambil uang bukan miliknya (Hal 60-61).

Pemimpin harus mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bukan memakmurkan diri pribadi, keluarga, maupun kelompoknya. Contohnya yang dijalankan oleh Mpu Sindok dari Kerajaan Medang. Merujuk pendapat dari para sejarawan bahwa selama menjabat sebagai raja Medang, Mpu Sindok yang berusaha keras untuk memakmurkan kehidupan rakyatnya dengan membangun Bendungan Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang berfungsi untuk irigasi pertanian (Prasasti Wulig, 8 Januari 935). Dari sini dapat dinyatakan bahwa Mpu Sindok telah menerapkan filsafat kepemimpinan Hasta Brata yaitu mulat laku jantraning surya,yang bermakna seorang pemimpin harus mampu menumbuh kembangkan daya hidup seluruh rakyatnya di dalam membangun atau meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negaranya (Hal 90).

Baca juga :  Resensi Buku Eling lan Waspada, Petuah untuk Kehidupan

Selain itu, seorang pemimpin harus mampu menjaga toleransi antar umat beragama, hal ini sangat penting dalam menjaga keutuhan negara. Salah satunya sikap kepemimpinan yang dilakukan Raden Patah dari Kesultanan Demak.

Sungguhpun Raden Patah memeluk agama Islam, namun tetap menjaga toleransi terhadap pemeluk agama lain. Sebagai bukti, Kuil Sam Poo Kong (Semarang) tidak dipaksakan untuk kembali menjadi masjid, sebagaimana ketika didirikan oleh Laksamana Cheng Ho. Hal ini menunjukkan bahwa Raden Patah telah menerapkan filsafat kepemimpinan Hasta Brata yaitu mulat laku jantraning angkasa yang bermakna seorang pemimpin harus memiliki ketulusan hati, mampu mengendalikan diri, serta sanggup menampung seluruh aspirasi dari seluruh rakyat (Hal 214-215). (*/Golali.id)

Judul Buku                : Butir-Butir Kearifan Para Raja di Tanah Jawa     

Penulis                       : Krisna Bayu Adji  

Jumlah Halaman      : 272

Penerbit                    : Araska

Cetakan                    : Cetakan I, Februari 2017

ISBN                         : 978-602-300-353-2