/Resensi Buku Asul-Asul dan Sejarah Orang Jawa, Penuh dengan Falsafah Hidup
Buku Asal-usul dan sejarah orang Jawa

Resensi Buku Asul-Asul dan Sejarah Orang Jawa, Penuh dengan Falsafah Hidup

Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa mengupas budaya Jawa yang penuh dengan falsafah hidup. Jika mempertanyakan asal-usul suku bangsa, bukan sesuatu yang mudah untuk menjawabnya. Hal yang sama terkait dengan orang Jawa, banyak pandangan yang berbeda terkait asal-usul orang Jawa.

Menurut para sejarawan, sejak 3000 SM hingga era kerajaan-kerajaan di Jawa, orang Jawa bukan hanya penduduk lama yang tinggal di tanah Jawa, tetapi juga para pendatang yaitu dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan, Kasi (India Selatan), Dinasti Kusana (India), keturunan Thailand (Siam), Turki, Arab, dan Campa.

Dalam perjalanannya, orang-orang Jawa didominasi keturunan Tiongkok dan India. Pendapat ini bisa dibuktikan secara ilmiah dari  tes deoxyribonucleic acid (DNA). Di mana DNA orang Jawa tidak jauh berbeda dengan DNA orang Tiongkok dan India (Hal 19-22).

Untuk definsi orang Jawa, seseorang berkelahiran di Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal di luar wilayah Jawa dapat dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa. Namun, orang yang sekadar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya. Dalam istilah lain, wong Jawa sing kelangan Jawa-ne (Hal 9).

Bila menilik pada sejarahnya, orang-orang Jawa tidak hanya berasal dari satu wilayah bahkan negara, sehingga menghasilkan salah satu ciri kepribadian orang Jawa yaitu bisa berbaur dengan orang-orang dan bangsa lain tanpa memerhatikan suku, agama, dan ras. Contoh, dari kepribadian ini salah satunya dapat ditemukan di Yogyakarta.

Di wilayah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia itu, orang Jawa dapat berbaur dan bersaudara dengan orang-orang dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Pulau Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Bahkan, orang-orang Jawa bisa bergaul dengan para pelancong mancanegara yang berkunjung ke kota gudeg ini (Hal 42). 

Budaya Jawa yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerusnya, tidak bersifat menggurui. Pasalnya, budaya Jawa mengandung banyak tanda yang penuh dengan makna,  di mana menggambarkan pandangan hidup dari masyarakat Jawa itu sendiri.

Hal itu dapat ditemukan antara lain dalam kesenian, seperti pertunjukan tari serimpi yang dimainkan empat penari wanita. Secara filosofis, jumlah empat penari wanita dalam tarian ini melambangkan empat arah mata angin yaitu utara, timur, selatan, dan barat. Selain itu, juga melambangkan empat unsur alam yakni api, udara, air, dan tanah (Hal 170).

Sajian kuliner pun tak lepas dari simbol yang memberikan pengajaran hidup, salah satu contohnya jajanan pasar, lemper. Lemper hampir selalu ada dalam setiap acara besar, mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian. Oleh masyarakat Jawa, lemper dimaknai yen dialem atimu aja memper (kalau dipuji, kau jangan sombong). Dengan demikian, lemper memiliki ajaran kepada setiap manusia agar tidak mudah sombong saat dipuji orang lain (Hal 201). (*/Golali.id) 

Judul Buku                : Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa     

Penulis                        : Sri Wintala Achmad   

Tebal                          : 264 Halaman

Penerbit                     : Araska

Cetakan                      : 2017

ISBN                           : 978-602-300-386-0