/Pesona Masjid Ghede Kauman dari Arsitektur Jawa Sampai Semangat Perjuangan

Pesona Masjid Ghede Kauman dari Arsitektur Jawa Sampai Semangat Perjuangan

Mengunjungi Kota Yogyakarta, wisatawan akan mudah sekali menemukan berbagai bangunan bersejarah, yang masih terjaga baik secara fisik maupun sisi histori. Salah satunya Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Gedhe Kauman.

Bukan hal yang sulit menemukan Masjid Ghede Kauman, yang berada di Kampung Kauman di Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan ini. Lokasi Masjid Ghede Kauman ini, berada di sebelah barat Alun-alun lor (utara dalam bahasa Jawa) dan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bangunan Masjid Ghede Kauman ini berasitektur tradisional Jawa, baik dari bagian eksterior maupun interiornya. Mulai dari pintu gerbang, sebelum halaman masjid yang berbentuk gapuro semar tinandhu. Ciri khas dari gapuro ini memiliki alas, pilar, dan atap.

Sementara pada bagian halaman masjid, terdapat pagongan yang terdapat pada bagian selatan dan utara. Kedua pagongan tersebut, berfungsi untuk menyimpan gamelan saat acara sekaten (peringatan hari lahir atau maulid Nabi Muhammad SAW). Selain itu adapula perpustakaan, yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang berkualitas.

Dari sana, terdapat pagar yang pada bagian gerbangnya terdapat hiasan berbentuk buah labu (waluh bahasa Jawa). Dari balik pagar tersebut, terdapat serambi sebagai salah satu ciri dari tata ruang masjid khas bangunan Jawa.

Setelah serambi barulah terdapat ruang utama (liwan) untuk salat, bagian ini memiliki 36 tiang dengan empat saka guru. Seperti pada umumnya ruangan utama masjid, liwan pun dilengkapi dengan mihrab (tempat imam memimpin salat) dan mimbar (tempat khatib berkutbah).

Hanya yang membedakannya, pada liwan di Masjid Gedhe Kauman terdapat maksura berbentuk kubus. Maksura ini menjadi tempat bagi sultan melaksanakan salat berjamaah.

Bagi jamaah perempuan, terdapat ruangan khusus untuk menunaikan salat yang berada di samping liwan yang dikenal dengan sebutan pawastren.

Baca juga :  Kenyal dan Gurih Cilok Penggoyang Lidah

Bangunan liwan beratap tajug lambang teplok, yang terdiri dari tiga susun di mana pada puncak atap terdapat mustaka.

Hampir Tiga Abad

Masjid Ghede Kauman yang didesain K.Wirjokusumo ini, didirikan atas inisiatif Sri Sultan Hamengku Buwono I selaku raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Penghulu Karaton Kiai Faqih Ibrahim Dipaningrat. Masjid Ghede Kauman dibangun pada 29 Mei 1773.

Berbagai kisah sejarah pernah terjadi di Masjid Ghede Kauman, termasuk pada halaman masjid, seperti yang tertulis pada monumen Askar Perang Sabil (APS) di halaman masjid.

APS sebagai bagian dari Markas Ulama Askar Perang Sabil (MUAPS) menggunakan halaman, pagongan, dan Masjid Gedhe Kauman, sebagai lokasi untuk melakukan rapat-rapat koordinasi, pembuatan senjata, dan latihan fisik APS maupun MUAPS.

APS berjuang bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di antaranya melawan penjajah pada Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta dijadikan ibu kota negara.

APS berdiri pada 23 Juli 1947 sebagai organisasi kesatuan pejuang Islam, anggota APS merupakan para mantan anggota laskar Hizbullah dan Sabilillah yang dibentuk zaman Jepang. (*/Golali.id)