/Memetik Inspirasi dari Penelitian dan Dedikasi Iip D. Yahya

Memetik Inspirasi dari Penelitian dan Dedikasi Iip D. Yahya

Menulis bagi Iip D. Yahya, seperti hembusan nafas, tak bisa dilepaskan dari kehidupan. Hal itu kemudian membuatnya menjadi seorang peneliti sejarah yang produktif dan berdedikasi tinggi, juga menorehkan jejak yang menginspirasi dalam dunia literasi.

Iip telah menerbitkan banyak buku mulai dari buku “Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories”, “Oto Iskandar di Nata, Perintis Tentara Republik Indonesia”, “Ajengan Cipasung: Biografi K.H. Moh. Ilyas Ruhiat”, “Gus Dur: Berbeda itu Asyik” hingga “Jaksa Agung Soeprapto dan Sejarah Pertumbuhan Kejaksaan Republik Indonesia”.

Iip mengisahkan sejak kecil sudah hobi membaca, karena sang ayah kerap membelikannya Majalah Bobo.

“Sejak kecil saya hobi membaca, karena orang tua mau bersusah payah membelikan Majalah Bobo yang tidak mudah di kampung kelahiran saya di Salawu, Tasikmalaya. Saya juga masih mengalami perpustakaan mobil yang keliling dari desa ke desa pada akhir 1970-an. Ayah saya juga penulis cerita anak dan pandai mendongeng. Film-film yang ditayangkan di Balai Desa Salawu atau layar tancap yang cukup marak saat saya kecil, banyak bertemakan sejarah,” ungkapnya, Selasa 23 April 2024.

Lebih lanjut, pria kelahiran Tasikmalaya, 17 Juli 1970 ini menceritakan saat dirinya berkuliah di jurusan Bahasa dan Satra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Iip lebih banyak menekuni isu sejarah, karena kesulitan untuk mempraktikkan ilmu sastra Arab yang dipelajarinya.

“Saat itu, bahkan sampai saat ini, belum ada majalah berbahasa Arab yang bisa kami baca atau menampung karya yang kami tulis. Kebetulan di Fakultas Adab ada juga jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Saat di IAIN inilah saya mulai meneliti sejarah masuknya Islam di Jawa Barat yang dimuat dalam majalah fakultas bernama SiLOKA, lalu meneliti tentang kujang yang kemudian dimuat di Jurnal Panggung STSI Bandung,”jelasnya.

Belakangan Iip baru tahu, artikel kujang itu merupakan tulisan ilmiah pertama tentang senjata khas Sunda tersebut dan banyak dirujuk para peneliti kujang setelahnya.

Sebagai penulis biografi profesional, Iip menulis berdasarkan permintaan klien atau pemesan, biasanya keluarga tokoh yang ditulis. Kebetulan tokoh-tokoh yang “diorder” penulisannya kepada Iip memiliki latar belakang sejarah yang menarik.

Dari data tentang satu tokoh yang ia tulis, kerap kali tersambungkan dengan tokoh dan peristiwa penting lain dalam sejarah. Maka sejarah nyaris selalu menjadi latar belakang tokoh-tokoh yang ditulis olehnya.

“Sebagai orang Sunda yang ingin mengetahui tokoh-tokoh Sunda, saya sampai saat ini terpukau dengan riwayat hidup Oto Iskandar di Nata. Setelah dua buku tentang Pak Oto (The Untold Stories & Perintis Tentara Republik Indonesia), saya masih ingin menulis minimal satu buku lagi tentang Si Jalak Harupat itu,” harapnya.

Menulis buku Oto Iskandar di Nata the Untold Stories pada tahun 2008 juga menjadi salah satu hal yang berkesan dalam perjalanan menulisnya, kala itu Iip didatangi salah satu putra Oto Iskandar di Nata yaitu Rachmadi Iskandar di Nata.

“Pak Mamat (panggilan dari Rachmadi Iskandar di Nata) berterima kasih atas dedikasi saya menulis buku ayahnya dan mengundang saya untuk bertemu dengan keluarga besar Pak Oto di Jakarta. Saat pertemuan dilaksanakan, ada sekitar 70-an yang hadir. Dalam pengantarnya, Pak Mamat mengatakan, “Silakan Pak Iip, ceritakan tentang ayah kami, karena kami sendiri tidak tahu.” Saya tentu merasa bangga dan bersyukur atas kepercayaan keluarga Pak Oto atas apa yang saya tulis. Ternyata buku tersebut menjadi pengetahuan baru mengenai ayah, kakek, dan buyut mereka. Tapi di luar itu, ucapan Pak Mamat menjadi semacam standard bagi saya. Buku saya dianggap berhasil, jika pihak keluarga tokoh yang saya tulis, menyampaikan hal yang sama,” paparnya.

Proses penulisan

Direktur Media Center PWNU Jawa Barat yang sudah menetap di Kota Bandung sejak tahun 2006 ini mengatakan, saat ini kajian sejarah sudah menjadi interest pribadi dirinya. Ia sudah menargetkan akan menulis topik-topik terpilih dalam 5-10 tahun ke depan.

“Hanya memang tidak mudah mendapatkan sponsor untuk proyek penelitian dan penulisan sejarah,” tambahnya.

Dalam membuat buku, Iip juga selalu memastikan mendapatkan data yang memadai, karena semakin banyak data yang diperoleh akan memudahkannya untuk menuliskan sebuah peristiwa atau tokoh. Namun jika data sedikit tapi tetap memaksakan menulis, maka akan banyak sisipan fiksinya.

“Kita sepakat bahwa masih banyak informasi sejarah yang belum terungkap, khususnya di Jawa Barat ini. Saya ingin ikut mengisi kekosongan informasi sejarah itu. Dengan banyaknya kemudahan akses data sejarah secara online saat ini, sangat memudahkan peneliti mendapatkan data. Sebuah pengetahun baru dari sebuah peristiwa dan tokoh dapat saya angkat. Saya yakin pada waktunya akan bermanfaat, yakni ketika muncul anak-anak muda yang curious pada sejarah di sekitarnya, paparnya.

Ditanya terkait cara memastikan keakuratan dan kebenaran informasi di dalam menulis buku, Iip menegaskan itu adalah salah satu proses yang ‘mahal’ yang tidak semua peneliti di Indonesia memilikinya, adalah waktu untuk internalisasi data.

Setelah riset pustaka dan lapangan, biasanya peneliti yang dibatasi oleh waktu dan dana proyek, akan langsung menuliskan laporan dan kesimpulan.

“Karena saya peneliti dan penulis independen, saya relatif memiliki waktu untuk melakukan internalisasi itu. Data yang saya dapat dibeuwung-diutahkeun terlebih dahulu. Laku semacam itu dalam tradisi ilmiah disebut scrutiny,” ungkapnya.

Kendati sudah menulis banyak buku, Iip mengatakan merasa belum berhasil menuliskan sebuah buku yang masterpiece. Tapi dilihat dari perlakuan atas karyanya, setidaknya ada dua pencapaian yang telah ditorehkan sampai saat ini.

Pertama, artikel “Ngalogat di Pesantren Sunda, Menghadirkan yang Dimangkirkan”, dimuat dalam buku Sadur, Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia yang diterbitkan oleh EFEO Prancis dan KPG (2009). Buku ini disunting oleh Henri C. Loir, berisi artikel lebih dari 60 pakar ahli Indonesia dan Malaysia dari seluruh dunia.

“Saya yang bukan siapa-siapa, tentu sangat tersanjung ketika hasil riset saya bisa bersanding dengan para Indonesianis kondang dalam buku tersebut,” ucapnya.

Kedua, sambung Iip, pada 11 Januari 2024, ia dianugerahi Jaksa Agung Soeprapto Award 2024 yang diberikan langsung oleh Jaksa Agung Burhanuddin. Iip D. Yahya dianggap berjasa ikut menuliskan sejarah penting Kejaksaan Republik Indonesia.

Menulis sejarah, terang Iip, akan ikut menentukan masa depan. Seperti halnya ketika ia menulis tentang Oto Iskandar di Nata.

“Sebelum 2008, buku dan tulisan tentang Pak Oto sangatlah terbatas. Setelah saya menulis dua buku Pak Oto pada 2008 dan 2021, atensi pada tokoh ini meningkat secara signifikan. Tema Pak Oto sudah menjadi kajian skripsi, tesis dan disertasi. Lakon Pak Oto juga sudah tampil dalam drama dan suatu saat saya yakin akan muncul dalam animasi atau film,” tandasnya.

Adapun pesan Iip untuk para peneliti muda atau para penulis sejarah muda, pilihlah tokoh sejarah yang dikagumi.

“Saya juga ingin menyampaikan kepada para peneliti muda, dari berbagai latar belakang pendidikan, saya mengajak untuk memilih tokoh sejarah idola masing-masing. Setelah menemukan tokoh pujaan, lalu telitilah berbagai aspek dari tokoh tersebut sampai menemukan informasi baru yang selama ini belum tergali. Dan tulislah dalam sebuah artikel atau buku. Percayalah, ketika data baru itu ditemukan, kita akan merasakan kebahagiaan yang priceless,” ucapnya.

“Dalam menulis sejarah, memang seperti berjalan di lorong yang sepi, tapi sangat penting karena dapat menyalakan cahaya di ujung lorong itu sehingga pejalan kaki tidak tersesat,” pungkasnya. (Tiwi Kasavela/Golali.id)

Tiwi Kasavela adalah Novelis, Praktisi Media, dan Founder Temu Sejarah

foto : Iip D. Yahya (dok : istimewa)