/Kampus Unpad  Jatinangor Bakal Gunakan PLTS
PLTS Unpad

Kampus Unpad  Jatinangor Bakal Gunakan PLTS

Ketua Program Studi Teknik Elektro FMIPA Unpad yang juga peneliti pengembangan PLTS Dr. Mohammad Taufik, M.Si., menerangkan kawasan Kampus Unpad di Jatinangor, berdasarkan hasil riset yang dilakukan, diperoleh hasil potensial untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya  (PLTS).

Menurut hasil risetnya, paparan radiasi yang dipancarkan matahari bisa diserap panel surya sebesar 70-75 persen.

“Ini berpengaruh pada kapasitas maksimal listrik yang bisa dibangkitkan panel surya,” kata Mohammad Taufik dikutip dari laman Unpad, Rabu 15 Desember 2021.

Rencananya pada tahap awal, PLTS akan dipasang di atap gedung Rektorat, gedung Lab Sentral, serta beberapa gedung baru yang dibangun dari dana IDB.

Penggunaan PLTS ini akan menggantikan listrik konvensional pada periode jam kerja. Konversi energi listrik bisa dimulai dari pukul setengah 7 pagi dan otomatis berganti dengan listrik konvensial ketika jam kerja telah selesai.

“Jadi selama durasi jam kerja, gedung-gedung tersebut akan di-support panel surya. Malam hari kembali di-support PLN,” imbuh Mohammad Taufik.

Ada beberapa kekhasan dari sistem PLTS yang akan dipasang. Sistem ini tidak akan menggunakan baterai.

Artinya, energi listrik yang dikonversi tidak akan disimpan. Kendati demikian, sistem telah dirancang dengan dilengkapi kecerdasan buatan (AI).

Teknologi AI akan berperan sebagai pengalih daya otomatis ketika malam hari ataupun saat terjadi anomali cuaca yang menyebabkan panel surya tidak maksimal menyerap radiasi matahari.

“Sistem ini akan men-switch listrik gedung yang kondisinya tidak mencukupi untuk disuplai panel surya. Kita pastikan kerja tidak akan terganggu akibat fluktuasi kecerahan matahari,” terangnya.

IoT

Kekhasan lainnya adalah sistem ini akan dilengkapi dengan IoT yang mampu mengontrol beban-beban listrik yang menyala tetapi tidak fungsional.

Baca juga :  Resensi Buku Dewa Ruci : Bima Mencari Air Kehidupan

Aplikasi ini akan mampu mengoptimalisasi penggunaan listrik dalam gedung pada siang hari. Selain itu, kata Taufik, sistem ini akan menggunakan konfigurasi on grid. 

Artinya, ketika panel surya mendapatkan listrik yang lebih dari cukup untuk penggunaan di jam kerja. Sisa listrik yang tidak terpakai akan otomatis dikompensasikan ke jaringan PLN. Hal ini dapat menjadi faktor pengurang terhadap beban listrik yang dipakai Unpad per bulannya.

“Misalkan, pemakaian listrik di malam hari kita sebesar 100 kWh, listrik dari panel surya masuk ke PLN sebesar 75 kWh, maka beban listrik yang dibayar Unpad hanya sebesar 25 kWh,” kata Taufik.

Pengembangan PLTS di Unpad juga akan mendorong dilakukannya riset-riset baru, terutama seputar penyempurnaan sistem yang dipasang, hingga pengembangan aplikasi IoT yang lebih komprehensif.

Selaintenaga surya, Unpad juga mulai mencari potensi-potensi EBT lainnya. Salah satu energi yang potensial dikembangkan adalah tenaga angin/bayu (PLTB). Posisi kampus Jatinangor yang berada di wilayah perbukitan sangat potensial untuk dikembangkan pembangkit listrik tenaga angin.

“Angin potensi dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan generator angin, sehingga kita bisa memiliki sumber listrik yang hybrid,” pungkas Taufik. (*/Golali.id)

foto : unpad.ac.id