/Dampak Positif dan Negatif Lato-Lato Menurut Sosiolog

Dampak Positif dan Negatif Lato-Lato Menurut Sosiolog

Demam mainan lato-lato akhir-akhirnya kembali terjadi pada anak-anak di Indonesia. Sosiolog Unpad, Dr. Hery Wibowo, S.Psi., M.M.,  menilai permainan lato-lato ini memberikan berbagai dampak positif dan negatif kepada anak-anak, tergantung kepada orang tua yang mengawasi dan mengasush anak-anaknya.

Dampak positif lato-lato

Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dr. Hery Wibowo, S.Psi., M.M., mengatakan secara umum, permainan lato-lato menjadi momentum terbaik bagi orang tua untuk “sedikit” melepaskan anak dari ketergantungan bermain telepon seluler.

Sehingga anak menjadi sedikit terhindar dari potensi negatif, yang bisa dialami ketika terlalu banyak bermain gawai.

“Ini juga momentum terbaik untuk membangun growth mindset dengan penekanan bahwa proses itu pending, tidak ada sukses instan, dan berlatih akan membawa hasil,” terang Hery dikutip dari website Unpad, Senin 9 Januari 2022.

Hery membeberkan ada 8 fakta sosiologis terkait permainan lato-lato :  

1.Lato-lato mampu membangun interaksi sosial

Berbeda dengan permainan berbasis perangkat seperti HP, tablet, atau perangkat lainnya, lato-lato lebih menyenangkan untuk dimainkan bersama-sama.

“Artinya, inilah ajang membangun interaksi sosial dari generasi Z yang sering disebut generasi ‘alien’ karena suka menyendiri dan generasi rebahan. Tanpa terasa kohesi sosial antar anak-anak mulai terbangun,” ucap Hery.

2.Lato-lato mampu membangun identitas sosial dan konsep diri yang positif

Anak yang memainkan lato-lato akan berusaha menunjukkan kemahirannya di depan sebayanya. Hery memaparkan, ini bisa menjadi lahan positif bagi anak untuk membangun konsep diri positifnya, karena mereka memiliki “wahana” untuk menunjukkan kebisaannya yang belum tentu dimiliki anak-anak lain di lingkungan sosial permainannya.

3.Menjadi magnet “Fear of Missing Out” atau FOMO

Menurut Hery FOMO menjadi salah satu karakteristik kuat dari generasi Z berdasarkan analisis para ahli. Generasi Z yang lahir dari tahun 1995-2012 ini selalu takut dikatakan “ketinggalan zaman”, sehingga mereka berlomba mengejar apapun yang sedang viral.

4.Lato-lato mampu mewadahi karakter generasi Z sebagai generasi do it yourself

Permainan ini dengan segala kesederhanaannya, dapat mendorong pemainnya melakukan ragam inovasi saat memainkan dan menikmatinya.

Melalui lato-lato, kapasitas kreativitas anak dapat terus berkembang dengan cara menyenangkan.

5.Alternatif membangun hubungan sosial yang menyenangkan bagi orang tua dan anak

 “Momentum memainkan lato-lato dapat menjadi waktu berkualitas bagi anak dan orang tua, sekaligus wahanan pemahaman nilai-nilai positif dan sarana orang tua mengapresiasi kelebihan sang anak, sehingga anak makin merasa berharga. Ini penting bagi tumbuh kembangnya kelak,” sambungnya.

6.Potensi panjat sosial (pansos)

Di era media sosial, “popularitas di dunia sosial” seakan menjadi level atau status sosial alternatif di luar dunia nyata. Kemahiran memainkan lato-lato dapat menjadi wahanan pansos bagi pemainnya.

7.Aktivitas bermain lato-lato dapat menjadi stress healing bagi sang anak untuk rehat sejenak dan mengisi energi untuk kembali siap melakukan aktivitas akademik sekolah yang kerap kali memiliki jadwal yang padat.

8.Lato-lato mampu memberikan pengaruh ekonomi positif bagi penjual dan produsennya

Dengan harga yang relatif terjangkau, permainan ini dapat dengan mudah dimiliki oleh semua orang

Dampak negatif lato-lato

Hery mengungkapkan, fakta tersebut akan menjadi negatif apabila anak-anak ataupun orang tua tidak bisa mendukung dan mengaturnya. Beberapa dampak tersebut di antaranya :

-Mengurangi waktu belajar atau mengerjakan tugas karena ketagihan bermain

-Potensi melahirkan rasa rendah diri jika tidak berhasil memainkannya, hingga tidak pekanya orang tua terhadap keberhasilan anaknya dalam bermain lato-lato.

-Anak juga perlu waspada saat bermain permainan ini. Ayunan bola yang kuat dan tidak terkontrol dengan baik berpotensi membentur ke bagian tubuh pemainnya, seperti mata, hidung, ataupun kepala. (Yatni Setianingsih/Golali.id)