/Berjuta Cerita Gan-gan Jatnika Mengeksplorasi Gunung

Berjuta Cerita Gan-gan Jatnika Mengeksplorasi Gunung

Gunung, sejarah, penulis itulah yang melekat pada sosok Gan-gan Jatnika, pria kelahiran Bandung 7 Januari 1976 ini telah lama aktif dalam menggali sejarah gunung-gunung yang ada di kawasan Bandung Raya dan membagikan ceritanya dalam bentuk tulisan di berbagai media.

“Saya tidak ingat pasti berapa jumlah gunung di Bandung Raya yang sudah saya daki, mungkin sekitar 100 gunung. Antara lain Tangkubanparahu, Manglayang, Burangrang, Malabar, Wayang, Mandalawangi, Bukittunggul, Kerenceng, Patuha, Kendeng, Palasari, Tanjaknangsi, Tambakruyung, Sangar, Pangradinan, Gedugan, Buleud, Masigit, Pangparang, dan lain-lain,” kata Gan-gan Jatnika, 23 April 2024.

Kegemaran Gan-gan pada gunung dan sejarah, bermula saat Gan-gan duduk di bangku SD. Saat itu ia mendapat pelajaran ‘bahwa manusia diciptakan dari tanah’, dari pemikiran sederhana itu, Gan-gan kecil menafsirkannya kita harus dekat dan akrab dengan tanah atau alam, karena manusia dan alam berasal dari satu bahan.

“Jadinya saya menumbuhkan minat dan mencoba mengenal alam di sekitar rumah dulu, atau di kampung halaman saat mudik ke rumah nenek,” tuturnya.

Saat SMP kelas 3, Gan-gan baru mulai mendaki gunung, kala itu ke Gunung Tangkubanparahu lewat Jayagiri. Dan dari sana mulai tertarik terhadap gunung dengan segala ceritanya.

“Dari pengalaman jalan-jalan ke gunung sering mendapat cerita, seperti banyaknya dongeng, folklore (cerita rakyat), mitos, dan lain-lain. Kalau dipikir, sebenarnya ada keunikan dan nilai dalam cerita itu. Kalau sampai tidak diabadikan sayang dong bisa musnah,” tuturnya.

“Cerita-cerita itu merupakan kekayaan asli urang Bandung, berupa sastra lisan yang intangible (warisan budaya tak benda). Setelah budayanya dilestarikan, otomatis gunungnya sebagai salah satu unsur intrinsik cerita yaitu: “setting tempat” harus dijaga juga dong,” imbuhnya.

Salah satu hal yang paling menarik saat menggali kisah Gunung, terang Gan-gan adalah saat menemukan cerita tentang suatu kampung atau pemukiman yang sudah tak ada. Buktinya terkadang kampung tersebut ada tertera di peta lama, ada puing bekas bangunan, atau ada saksi hidup yang mempunyai cerita tentang keberadaannya.

“Kampung yang hilang, kenapa bisa menghilang? Adakah bukti kampung tersebut dulu pernah ada. Saya selalu tertarik dengan hal ini,” paparnya.

Keterkaitan sejarah

“Hal lain yg menarik, jika ternyata menemukan unsur keterkaitan sejarah antara satu gunung dengan gunung lainnya, ada kalanya dua gunung berjauhan tetapi mempunyai akar cerita yang sama,” bebernya.

Menurut Gan-gan, muara dari sejarah adalah menumbuhkan kesadaran untuk merawat dan melestarikan agar sesuatu yang berharga tidak hilang, demi masa depan yang lebih baik.

“Sejarah adalah akar dan identitas. Mempelajari dan menyukai sejarah bukanlah suatu langkah mundur, tetapi untuk lebih mengenal jati diri dan bangga akan apa yang saat ini kita miliki,” terang Gan-gan

Dalam menggali dan menulis sejarah tentang gunung tetap melalui proses verifikasi fakta dan data dari informasi yang didapatkan, yang biasanya dilakukan berdasarkan literasi, terutama tulisan berupa sumber primer atau sekunder. Serta berdasarkan data visual, biasanya dengan mencari data/fakta di beberapa museum. Dan tentu saja menjalin komunikasi dengan para ahli di bidangnya.

Kaitan pengetahuan sejarah dengan upaya konservasi alam dalam eksplorasi dan penelitian terhadap gunung-gunung, menurut Gan-gan seperti suatu mata rantai mulai dari penemuan keragaman terutama dalam 3 aspek (keragaman geologi, hayati, budaya; geodiversity, biodiversity, culturdiversity). Dari keragaman tersebut dipilah mana yang bisa bernilai heritage (warisan sejarah) serta memiliki daya jual ekonomi bagi warga sekitar.

“Setelah menemukan hal tersebut, kemudian mengangkatnya ke publik, bisa melalui obrolan/diskusi atau menjadi tulisan populer. Dengan diketahuinya hal tersebut oleh publik, diharapkan bisa menjadi pemantik untuk melestarikan alam di titik tersebut serta di area sekitarnya. Singkatnya mata rantai itu : ekplorasi – diversifikasi – heritage – konservasi,” urainya.

Gan-gan juga bercerita ada beberapa tantangan selama menggali sejarah gunung-gunung tersebut, di antaranya adalah perbedaan sudut pandang.

“Sebagian berpendapat sejarah itu adalah sampah masa lalu yang tidak perlu diusik-usik lagi. Kemudian perbedaan cerita dengan orang-orang yang tidak mau saling melengkapi atau menerima keragaman versi. Pokoknya menurut dia yang paling benar adalah versi dia,” ucapnya.

Tantangan

“Kalau sudah bertemu dengan yang seperti ini, rasanya sungkan meneruskan. Kemudian tantangan lainnya adalah menemukan satu kata yang tidak atau belum diketahui artinya,” tambahnya sambil tertawa renyah.

Gan-gan melanjutkan, halangan lainnya yang membuat penulisan terlambat adalah terus berkembangnya suatu topik dengan ditemukannya hal atau info baru. Sehingga saat mau menuliskan, tidak selesai-selesai karena penasaran dengan adanya info baru tersebut.

Kecintaan Gan-gan terhadap gunung dan sejarah membuatnya aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas seperti Perhimpunan Pecinta Alam Gribapala-Antapani Bandung, Komunitas Pendaki Gunung Bandung (KPGB), Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dan Geowana Ecotourism Ngalalana Tatar Bandung.

Selain itu untuk menambah keterampilan dalam menulis, Gan-gan pernah mengikuti pelatihan Penulisan Sejarah Kota Bandung yang diselenggarakan Disbudpar Kota Bandung dan mengikuti Pelatihan Pemandu Geowisata yang diselenggarakan oleh PPSDM Geominerba, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM).

Selanjutnya pada tahun 2023 turut menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang Geowisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Hasil ekplorasi sejarah dan pendakian gunung, Gan-gan mendokumentasikannya dalam sebuah buku yang berjudul “Lingkung Gunung Bandung #1”. Buku tersebut merupakan kolaborasi Komunitas Pendaki Gunung Bandung (KPGB) dan media online Bandungbergerak.id.

Gan-gan berpesan kepada semua orang untuk merawat gunung, karena hal itu sangat besar kaitannya dengan kehidupan semua makhluk di dunia.

“Gunung-gunung itu letaknya memang di luar wilayah Kota Bandung, tapi aliran udara dan airnya terasa sampai ke kota. Jika gunungnya baik, maka baik pula lah apa yang sampai ke kota, demikian pula sebaliknya jika kondisi gunungnya buruk, maka buruk pula lah yang sampai ke Kota Bandung,” pungkasnya. (Tiwi Kasavela/Golali.id)

Tiwi Kasavela adalah seorang praktisi media, novelis, dan founder Komunitas Temu Sejarah

foto : Gan-gan Jatnika (dok : istimewa)